Kali ini aku ingin berkisah tentang ‘impian’ (lagi). Namun bukan hanya tentang diriku. Aku ingin berkisah tentang seseorang yang luar biasa. Seseorang yang tak jauh-jauh dari hidupku. Seseorang itu adalah bapak dari ibuku, yang biasa kusapa mbah kakung. Ya.. mbah kakung, karena aku ini lahir di tanah jawa dan mengalir darah jawa (tulen katanya).

Kenapa kusebut luar biasa? Bagaimana tidak luar biasa… lantaran beliau jugalah aku bisa ada di dunia ini (kan lahir duluan daripada aku). Tapi tentu saja bukan hanya karena itu. Aku bisa berkuliah pun juga berkat beliau. Mbah kakung ku inilah yang membelaku ketika aku memutuskan untuk berkuliah setelah lulus SMK. Dulu aku sempat kebingungan kemana kakiku melangkah ketika lulus. Ingin sekali kuliah tapi tak tega melihat kondisi ekonomi keluarga. Ibu lah yang berjuang sendiri membiayai semua kebutuhan (maklum bapak sudah tak ada sejak aku SMP). Ibu tak yakin dari mana akan mendapatkan biaya. Tapi mbah kakung ku justru membelaku. Pasti ada jalan. Mbah kakung dan keluarga besarku mencoba menyakinkan ibuku agar menguliahkan aku. Bahkan mbah kakung ku ini sampai menghubungi kolega (biar keren dikit) agar mendapat info tentang perkuliahan dan mempermudah aku untuk masuk kuliah. Memang dari keluargaku, manusia pertama yang berani memaksakan diri untuk berkuliah ya aku ini. Namun aku juga sadar diri untuk tak memaksa dapat berkuliah di kampus-kampus yang mentereng se-indonesia tentunya. Dan pada akhirnya aku pun dilepas oleh ibu untuk berkuliah di salah satu kampus dikotaku (yang waktu itu termasuk paling murah biayanya).

All About Dream (part.2)


Aku sering berpikir. Kenapa mbah kakung ku ini begitu membela dan menginginkan aku untuk berkuliah? Memang mbah kakung ku tak berpendidikan tinggi. Hanya tamatan setingkat SD (tak tahu dulu namanya apa). Beliau juga hanya seorang petani yang biasa berada disawah dan sering kali  mencari rumput untuk ternaknya. Tapi beliau punya semangat tinggi untuk terus belajar. Mbah kakung ku ini masih mengikuti organisasi-organisasi keagamaan diusianya yang sudah tak muda lagi. Masih sering aktif mengikuti berbagai acara. Dan yang paling membuatku kagum adalah beliau masih sering membaca buku. Tak pernah beliau berhenti untuk terus belajar dengan berbagai cara. Hal itu membuat beliau sering dicari dan dihargai orang.

Ibu pernah berkisah bahwa masa kecil hingga masa remaja mbah kakung ku ini tidaklah mudah. Beliau sudah ditinggal ibunya (mbah buyut ku) dan sudah harus bekerja ketika masih bocah. Saudaranya pun banyak dan ditambah lagi kesulitan ekonomi dalam keluarga. Beliau tak begitu terurus. Selain itu beliau juga harus menjaga adik-adiknya. Sekolahnya jadi terbengkalai. Tapi mbah kakung ku ini punya semangat belajar yang tak pernah padam. Aku pun berpikir mungkin itulah kenapa beliau menginginkan cucu-cucunya terus belajar sesuai dengan apa yang dicita-citakan. 

Masih sangat aku ingat beliau pernah berkata padaku “Kuliah nganti 6 tahun pisan ae. Prayo kuat mestine.”  Itu berarti mbah kakung ku ini menginginkan aku berkuliah 6 tahun dari S1 (4 tahun) hingga S2 (2 tahun). Tapi rasanya aku belum dapat mewujudkan keinginan beliau itu. Keinginan untuk terus sekolah sih masih ada. Tapi biayanya kan tak sedikit. Bayangkan saja, dulu S2 memang cuma 2 tahun. Tapi sekarang jadi 4 tahun katanya. Walaupun sebenarnya masih ada cara beasiswa dan beriringan dengan kerja juga sih. Semoga saja aku bisa mewujudkan impian panjenengan suatu hari nanti ya mbah…
Share this article :
+
Apakah Anda menyukai postingan ini? Silahkan share dengan klik di sini
author-photo Salwa Atika

Saya hanyalah orang biasa yang menyukai blogging dan mencoba berbagi pengalaman dengan yang lain tentang blogging dan SEO. Semoga bisa bermanfaat.

Follow me on: Facebook | Twitter | Google+
×
Previous
Next Post »
Show Facebook Comments
Terima kasih sudah berkomentar
Diberdayakan oleh Blogger.

Texts

Mengenai Saya

Foto saya
Human II Female II Dreamer

Followers

Copyright © 2013. My Room - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger